17 Jan 2017

Percakapakan Kita Dulu





Sisi perempuan
Dua percakapan yang sebetulnya hanya bisa dibilang kegiatan menempelkan telpon pada telinga masing-masing. Lebih banyak hening yang terdengar daripada apa yang bisa dinamakan sebuah obrolan. Laki-laki itu baru terbangun dari tidurnya jam 11 siang dan tetap saja dia bilang kurang tidur. Mungkin memang malam bukan waktu otaknya mati. Menjelang subuh baru otak dan tubuhnya menyerah untuk tetap terjaga. Si perempuan pun bukan penikmat tidur malam cukup namun terkadang dia bangun lebih pagi dari si lelaki setiap akhir pekan dan menantikan telponnya berdering untuk sebuah obrolan yang sekedar iya dan tidak. sayangnya ini tak selalu membuat perempuan senang. Ia jengkel bukan kepalang kepada lelakinya yang menelpon seenak menyalakan radio dan membiarkannya mengoceh tanpa tanggapan berarti. Si perempuan sudah tau dan mengenal kebiasaan lelakinya namun tetap saja ia manusia yang menganggap dirinya sedang bercakap-cakap dengan yang ia sebut kekasihnya. Perempuan berusaha setidaknya itulah pendapatnya untuk memulai percakapan dan bertanya ini itu karena jika ia tidak bertanya atau hanya menceritakan sesuatu lelaki hanya diam saja.
Sayang kau baru bangun?
Ya.
Kau mau tidur lagi?
Tidak.
Sayang aku sedang bingung, sebentar lagi aku lulus kuliah tapi aku ingin pindah ke kotamu dan bekerja disana agar kita bisa dekat, tapi kau tau kan orang tuaku sudah memilihkan jalan lain setelah aku lulus aku akan disuruh mengabdi untuk mengajar di sekolah ayahku. Tapi aku tidak mau, aku bingung, tidak ada alasan aku pergi lebih lama dari rumah, sayang? Halo? Kau dengar?
Iya.
Si perempuan hening dan menunggu lelakinya memulai kata lain jika mengharap kalimat utuh terlalu tinggi. Dan tak ada. Perempuan kesal dan memaki dalam hati. Dia tau memaki terang-terangan hanya akan mendapat tanggapan bahwa perempuan sedang pms dari si lekaki.
Sayang aku harus apa? Bantu aku
Hmm
Halo?
Iya
Sayang kau ingin tidur lagi? Masih ngantuk?
Tidak

Perempuan itu muak dan kembali menyumpahi si lelaki dalam hati.  Perempuan itu berharap ada dunia yang bisa si lelaki bagi dengannya meski itu tentang umpatannya kepada teman sekantor atau bosnya sekalipun. Mereka tinggal berjauhan dan si lelaki sulit merangkum dunianya yang padat dan tidak terlihat si perempuan kedalam beberapa kalimat saja. Sementara si perempuan hanya menjalani dunianya dengan beberapa hal saja tidur, mengetik skripsi, makan, dan mandi kadang-kadang. Apa yang harus perempuan ceritakan? Apakah tentang betapa jeniusnya orang yang menyusun keyboard computer menjadi QWERTY? Atau bagaimana bisa pantatnya panas saat dia kelamaan duduk? Atau mengeluh betapa mahalnya jasa print dan fotocopy di luar sana. Betapa sepele hidupnya. Si perempuan diam dan si lelaki juga diam.
Sayang?
Yaa
Hening
Sayang?
Hmm
Hening
Sayang?
Apa?
Kenapa diam saja?
Kenapa harus aku terus yang bicara?
Si perempuan muak sampai ke tulang.
Yasudah kalau cuma mau diam aku mau lanjut mengetik, kau mau tidur lagi?
Yasudah lanjut saja biarkan telponnya tetap menyala.
Perempuan itu lanjut mengetik dengan kasar agar lelakinya masih bisa mendengar apa yang dia lakukan atau mungkin dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya pada kata-kata. Tulisan tak pernah mengkhianatinya. Tulisannya takkan berontak pada apapun yang perempuan tulis termasuk umpatan paling kasar sekalipun. Dia tak harus berhati-hati atau takut salah bicara. Dia bebas. Seberapa banyak pikiran yang ia tuliskan sebanyak itu pula ia mendapatkannya kembali. Bukan hanya ya, tidak, atau gumaman. Si Lelaki masih diam dan si perempuan diam.
Sisi laki-laki
Mataku itu masih setengah terbuka saat matahari hampir tepat di atas kepala. aku  Meraih telpon genggam dan memanggil sebuah nomor yang aku hapal bahkan di saat aku hampir lupa siapa diriku. aku  berharap dapat mendengar celotehan tak penting atau sebatas rengekan manja dari kekasihku yang pasti tengah rindu setengah mati. Namun aku terlalu ingin mendengar tanpa ingin berbicara terlalu panjang. Aku menghabiskan lima hari hidupku untuk bekerja dan membual kepada klien-klien dengan mulut manis yang segera ingin segera aku muntahkan begitu klienku pergi. aku hanya ingin diam, menjawab seadanya atau  tidak menjawab sama sekali pertanda setuju saja. aku hanya ingin istirahat dari beban bermulut manis yang semakin pahit di pangkal lidah. Aku mencekik diriku selama aku bekerja demi memuaskan mereka yang memegang bagaimana keuanganku dilewatkan satu bulan ke depan.  
Sayang kau baru bangun?
Ya.
Kau mau tidur lagi?
Tidak.
Kenapa perempuan ini melontarkan pertanyaan yang begitu bodoh? untuk apa aku menelponnya jika aku ingin tidur kembali, aku tinggal tidur saja. Tapi suara itu begitu renyah seperti waffle tipis yang baru keluar dari panggangan aku ingin suara itu selamanya. tetapi kau diam lebih banyak diam. Betapa  jengkelnya aku. ayolah keluarkan celotehmu, hibur aku, aku lelah dengan duniaku selama seminggu, ini akhir minggu aku ingin pulang kepadamu walau hanya pada suaramu. Aku ingin bersandar pada ceritamu tentang duniamu yang setidaknya belum memuakan seperti aku. Kini kau hampir lulus, ah kau akan segera seperti aku, menjalani rutinitas menjemukan demi bonus yang bisa menjauhkanmu dari semua kehidupan ini barang sehari dua hari. Ah kasihan kau.
Sayang aku sedang bingung, sebentar lagi aku lulus kuliah tapi aku ingin pindah ke kotamu dan bekerja disana agar kita bisa dekat, tapi kau tau kan orang tuaku sudah memilihkan jalan lain setelah aku lulus aku akan disuruh mengabdi untuk mengajar di sekolah ayahku. Tapi aku tidak mau, aku bingung, tidak ada alasan aku pergi lebih lama dari rumah, sayang? Halo? Kau dengar?
Iya.
Sayang aku harus apa? Bantu aku
Hmm
Halo?
Iya
Sayang kau ingin tidur lagi? Masih ngantuk?
Tidak
Ya Tuhan aku sedang memikirkanmu mengapa kau terus memanggilku? Aku ingin kau disini bersamaku, tetapi aku tak tega membiarkanmu jauh dari orang tuamu dan berjuang keras sendirian. Ah kenapa kau malah membahas masalah ini sekarang di saat aku ingin lari dan pulang kepadamu. Kau malah menyuruhku kembali kepada kehidupan ibu kota yang liar dibalik para birokrat terhormat. Sayang, tak bisakah kau biarkan aku pulang kepadamu meski hanya mencumbui suaramu?
Sayang?
Yaa
Hening
Sayang?
Hmm
Hening
Sayang?
Apa?
Kenapa diam saja?
Kenapa harus aku terus yang bicara?
Yasudah kalau Cuma mau diam aku mau lanjut mengetik, kau mau tidur lagi?
Ada apa denganmu? Nadamu terdengar gusar.
Yasudah lanjut saja biarkan telponnya tetap menyala.
Mulutku diam tapi pikiranku terus berbicara seperti segerombolan wakil rakyat yang sedang rapat penting menentukan merk mobil apa yang cocok digunakan pada akhir pekan, atau jam tangan merk apa yang bisa membuat mereka tampak lebih terhormat dan kaya dengan perut yang semakin membuncit. Selanjutnya terdengar bunyi keyboardmu yang aku rasa agak keterlaluan suaranya. Kau diam, aku pun diam.