Sisi
perempuan
Dua percakapan yang
sebetulnya hanya bisa dibilang kegiatan menempelkan telpon pada telinga
masing-masing. Lebih banyak hening yang terdengar daripada apa yang bisa
dinamakan sebuah obrolan. Laki-laki itu baru terbangun dari tidurnya jam 11
siang dan tetap saja dia bilang kurang tidur. Mungkin memang malam bukan waktu
otaknya mati. Menjelang subuh baru otak dan tubuhnya menyerah untuk tetap
terjaga. Si perempuan pun bukan penikmat tidur malam cukup namun terkadang dia
bangun lebih pagi dari si lelaki setiap akhir pekan dan menantikan telponnya
berdering untuk sebuah obrolan yang sekedar iya dan tidak. sayangnya ini tak
selalu membuat perempuan senang. Ia jengkel bukan kepalang kepada lelakinya
yang menelpon seenak menyalakan radio dan membiarkannya mengoceh tanpa
tanggapan berarti. Si perempuan sudah tau dan mengenal kebiasaan lelakinya
namun tetap saja ia manusia yang menganggap dirinya sedang bercakap-cakap
dengan yang ia sebut kekasihnya. Perempuan berusaha setidaknya itulah
pendapatnya untuk memulai percakapan dan bertanya ini itu karena jika ia tidak
bertanya atau hanya menceritakan sesuatu lelaki hanya diam saja.
Sayang kau baru bangun?
Ya.
Kau mau tidur lagi?
Tidak.
Sayang aku sedang bingung, sebentar
lagi aku lulus kuliah tapi aku ingin pindah ke kotamu dan bekerja disana agar
kita bisa dekat, tapi kau tau kan orang tuaku sudah memilihkan jalan lain
setelah aku lulus aku akan disuruh mengabdi untuk mengajar di sekolah ayahku.
Tapi aku tidak mau, aku bingung, tidak ada alasan aku pergi lebih lama dari
rumah, sayang? Halo? Kau dengar?
Iya.
Si perempuan hening dan
menunggu lelakinya memulai kata lain jika mengharap kalimat utuh terlalu
tinggi. Dan tak ada. Perempuan kesal dan memaki dalam hati. Dia tau memaki
terang-terangan hanya akan mendapat tanggapan bahwa perempuan sedang pms dari
si lekaki.
Sayang aku harus apa? Bantu aku
Hmm
Halo?
Iya
Sayang kau ingin tidur lagi? Masih
ngantuk?
Tidak
Perempuan itu muak dan
kembali menyumpahi si lelaki dalam hati.
Perempuan itu berharap ada dunia yang bisa si lelaki bagi dengannya
meski itu tentang umpatannya kepada teman sekantor atau bosnya sekalipun. Mereka
tinggal berjauhan dan si lelaki sulit merangkum dunianya yang padat dan tidak
terlihat si perempuan kedalam beberapa kalimat saja. Sementara si perempuan
hanya menjalani dunianya dengan beberapa hal saja tidur, mengetik skripsi,
makan, dan mandi kadang-kadang. Apa yang harus perempuan ceritakan? Apakah
tentang betapa jeniusnya orang yang menyusun keyboard computer menjadi QWERTY?
Atau bagaimana bisa pantatnya panas saat dia kelamaan duduk? Atau mengeluh
betapa mahalnya jasa print dan fotocopy di luar sana. Betapa sepele hidupnya. Si
perempuan diam dan si lelaki juga diam.
Sayang?
Yaa
Hening
Sayang?
Hmm
Hening
Sayang?
Apa?
Kenapa diam saja?
Kenapa harus aku terus yang bicara?
Si perempuan muak sampai
ke tulang.
Yasudah kalau cuma mau
diam aku mau lanjut mengetik, kau mau tidur lagi?
Yasudah lanjut saja
biarkan telponnya tetap menyala.
Perempuan itu lanjut
mengetik dengan kasar agar lelakinya masih bisa mendengar apa yang dia lakukan
atau mungkin dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya pada kata-kata. Tulisan
tak pernah mengkhianatinya. Tulisannya takkan berontak pada apapun yang
perempuan tulis termasuk umpatan paling kasar sekalipun. Dia tak harus
berhati-hati atau takut salah bicara. Dia bebas. Seberapa banyak pikiran yang
ia tuliskan sebanyak itu pula ia mendapatkannya kembali. Bukan hanya ya, tidak,
atau gumaman. Si Lelaki masih diam dan si perempuan diam.
Sisi
laki-laki
Mataku itu masih setengah
terbuka saat matahari hampir tepat di atas kepala. aku Meraih telpon genggam dan memanggil sebuah
nomor yang aku hapal bahkan di saat aku hampir lupa siapa diriku. aku berharap dapat mendengar celotehan tak penting
atau sebatas rengekan manja dari kekasihku yang pasti tengah rindu setengah
mati. Namun aku terlalu ingin mendengar tanpa ingin berbicara terlalu panjang. Aku
menghabiskan lima hari hidupku untuk bekerja dan membual kepada klien-klien
dengan mulut manis yang segera ingin segera aku muntahkan begitu klienku pergi.
aku hanya ingin diam, menjawab seadanya atau
tidak menjawab sama sekali pertanda setuju saja. aku hanya ingin
istirahat dari beban bermulut manis yang semakin pahit di pangkal lidah. Aku
mencekik diriku selama aku bekerja demi memuaskan mereka yang memegang
bagaimana keuanganku dilewatkan satu bulan ke depan.
Sayang kau baru bangun?
Ya.
Kau mau tidur lagi?
Tidak.
Kenapa perempuan ini
melontarkan pertanyaan yang begitu bodoh? untuk apa aku menelponnya jika aku
ingin tidur kembali, aku tinggal tidur saja. Tapi suara itu begitu renyah
seperti waffle tipis yang baru keluar dari panggangan aku ingin suara itu
selamanya. tetapi kau diam lebih banyak diam. Betapa jengkelnya aku. ayolah keluarkan celotehmu,
hibur aku, aku lelah dengan duniaku selama seminggu, ini akhir minggu aku ingin
pulang kepadamu walau hanya pada suaramu. Aku ingin bersandar pada ceritamu
tentang duniamu yang setidaknya belum memuakan seperti aku. Kini kau hampir
lulus, ah kau akan segera seperti aku, menjalani rutinitas menjemukan demi
bonus yang bisa menjauhkanmu dari semua kehidupan ini barang sehari dua hari.
Ah kasihan kau.
Sayang aku sedang
bingung, sebentar lagi aku lulus kuliah tapi aku ingin pindah ke kotamu dan
bekerja disana agar kita bisa dekat, tapi kau tau kan orang tuaku sudah
memilihkan jalan lain setelah aku lulus aku akan disuruh mengabdi untuk
mengajar di sekolah ayahku. Tapi aku tidak mau, aku bingung, tidak ada alasan
aku pergi lebih lama dari rumah, sayang? Halo? Kau dengar?
Iya.
Sayang aku harus apa?
Bantu aku
Hmm
Halo?
Iya
Sayang kau ingin tidur
lagi? Masih ngantuk?
Tidak
Ya Tuhan aku sedang
memikirkanmu mengapa kau terus memanggilku? Aku ingin kau disini bersamaku,
tetapi aku tak tega membiarkanmu jauh dari orang tuamu dan berjuang keras
sendirian. Ah kenapa kau malah membahas masalah ini sekarang di saat aku ingin
lari dan pulang kepadamu. Kau malah menyuruhku kembali kepada kehidupan ibu
kota yang liar dibalik para birokrat terhormat. Sayang, tak bisakah kau biarkan
aku pulang kepadamu meski hanya mencumbui suaramu?
Sayang?
Yaa
Hening
Sayang?
Hmm
Hening
Sayang?
Apa?
Kenapa diam saja?
Kenapa harus aku terus yang bicara?
Yasudah kalau Cuma mau diam aku mau
lanjut mengetik, kau mau tidur lagi?
Ada apa denganmu? Nadamu
terdengar gusar.
Yasudah lanjut saja
biarkan telponnya tetap menyala.
Mulutku diam tapi
pikiranku terus berbicara seperti segerombolan wakil rakyat yang sedang rapat
penting menentukan merk mobil apa yang cocok digunakan pada akhir pekan, atau
jam tangan merk apa yang bisa membuat mereka tampak lebih terhormat dan kaya
dengan perut yang semakin membuncit. Selanjutnya terdengar bunyi keyboardmu
yang aku rasa agak keterlaluan suaranya. Kau diam, aku pun diam.
