Yang nanyain udah makan bakalan kalah sama yang ngajakin
makan
Yang nanya udah pulang bakalan kalah sama yang jemput
langsung
Pernahkah kalian mendengar kalimat-kalimat itu? Telinga atau
mata saya termasuk yang cukup mual sekaligus tertawa kesetanan melihat banyak
perempuan galau bergelimpangan hanya karena kalimat-kalimat itu. Dalam hati
saya berdoa oh God siapapun yang pertama kali mencetusnya semoga dosa-dosanya
diampuni karena telah menyebabkan gejolak luar biasa di hati banyak perempuan
dan mungkin banyak menyebabkan keretakan di hubungan yang sedang adem-adem saja
bahkan mungkin sampai putus, duh begoknya.
Tak memungkiri meski saya tidak mengacuhkannya tapi saya
cukup gerah dengan kelakuan perempuan-perempuan itu. Kenapa? Karena saya LDR,
LDR dengan pacar saya dari pertama kali hubungan kami lahir. Yak awal pacaran
tahun pertama terlalu banyak waktu yang saya buang untuk menangisi semua hal.
Saat teman saya dijemput kuliah oleh pacarnya, atau saat sedang pergi ke mall
dengan teman kemudian dia dijemput pacarnya dan meninggalkan saya sendiri, saat
saya harus diam saat semua teman saya membicarakan akan pergi dengan istilah
emm double fucking date, saat saya hanya bisa bertemu satu bulan sekali, saat
saya, saya, saya ah sudahlah.
Kini sudah menginjak tahun ketiga dan ternyata saya masih
bertahan, saya kuat, pacar saya kuat luar biasa menjaga saya dari jauh hingga
saya hanya ingin disini, tak ingin kemanapun memastikan dia selalu tahu kemana
mencari saya.
Kini saya sudah lulus sebagai sarjana, tepatnya baru saja
sidang. Sebagai mahasiswa rantau banyak teman-teman saya yang telah lulus
kembali ke daerah masing-masing untuk bekerja di daerahnya, otomatis banyak
pasangan LDR lahir dari hubungan yang telah bertahun-tahun yang mana menurut
saya pribadi telah matang dan dewasa. Tapi manusia hanya bisa berencana,
mengira, dan ngegosip, sisanya Tuhan yang menentukan.
Kembali pada dua kalimat tadi, saya yang sudah tak acuh
kembali dipaksa mengacuhkannya dan bingung sendiri terhadap kelakuan teman saya
yang baru lahiran LDRnya tetapi hubungannya sendiri sudah menginjak tahun
keenam, sudah masuk TK kalau ia manusia. Suatu sore yang tenang dengan cemilan
buku-buku novel yang lezat, saya dipaksa oleh pikirian saya untuk merenungi
apakah segitu susahnya menjalani LDR yang menurut saya tidak begitu jauh, hanya
2 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor? Apa tidak berlebihan? Ini sih
LDR dengan level kepedasan setengah cabai yang sudah dibuang bijinya kemudian
direbus dan dicampur terasi, hmm enak. Tapi kurang pedas.
Teman saya setiap hari memasang status bbm yang galau
mengenai LDRnya, dan seringkali mengutarakan kalimat-kalimat memuakan seperti
di atas. timbul satu pertanyaan dalam benak saya, jadi selama ini kamu bertahan
sama dia karena menyayangi orangnya atau kebiasaannya?
Girl, nun jauh 2 jam dari tempat kamu
berada ada satu sosok lelaki yang mencintaimu, menerima kamu meski kamu terus
merengek seperti bayi, sabar terhadap PMS kau setiap bulan selama 6 tahun lebih,
tegar melihat wajah bangun tidur kamu yang seperti singa kesurupan mutan planet
lain, setia menjemput kamu di manapun meski tulang-tulangnya juga hampir remuk,
rela hujan-hujanan cuma karena kamu bilang kamu sakit, dan sekarang kamu berpikiran
bahwa dia akan kalah hanya dengan seseorang lain yang mengajak kamu makan di
warteg? Oh semoga Tuhan segala agama mengampuni kamu meski saya yakin Tuhanku
Maha Pengampun.
Teman saya hanya sebagian kecil dari kesekian perempuan yang
terlampau lemah. Bagaimana mungkin saya tidak emosi jika harga cinta perempuan
hanya sebatas diajak makan atau diantar jemput. Teriak-teriak emansipasi tapi
berjuang tanpa lelaki saja tak mampu.
Banyak yang mengatakan jika saya bisa bicara sesantai ini
karena saya terbiasa LDR jadi gak ngerasain. Sekali lagi ya biar lebih dramatis
TERBIASA LDR. Jadi kalau saya terbiasa LDR saya tidak pernah sedih? tidak pernah galau? Tanya pacar saya yang
sudah kebal terhadap rengekan saya yang muak dengan hubungan ini. Setelah saya
merengek tanpa berpikir bahwa mungkin pacar saya pun sama sakitnya, bahkan
lebih, saya akhirnya mulai menyadari jika saya mencintai dia, tidak ingin
kehilangan dia, tidak ingin mencintai lelaki lain, dan tidak ingin dia
mencintai wanita lain, maka saya bertahan. Toh semua kebiasaan hubungan normal
itu akan kita jalani juga lambat laun. Makan bareng, nonton bareng, jalan
bareng, ngupil bareng, suatu saat nanti akan menjadi kebiasaan kami juga. Jika
sekarang belum bisa dikatakan kebiasaan karena hanya terjadi sebulan sekali,
tetapi kami justru lebih menghargai semua itu.
Bagi saya cukup pacar saya yang tahu serapuh apa, sesakit apa
saya selama LDR ini, orang lain tak perlu tahu, apalagi dengan saya
mengumbarnya di status jejaring sosial. Memangnya bakalan ada yang peduli?
Tertawa iya, iya seperti saya yang menertawai mereka. Yang saya umbar cukup
bagaimana bahagianya saya saat bisa kencan, saat dijajani berbagai buku
yang beraroma lezat (hidung saya memang
rada kelainan dengan aroma buku baru), saat berlibur, atau sekedar saat melihatnya
tertidur pulas di samping saya. Sederhana memang tapi cukup membuat orang iri
bahkan yang tidak menjalani LDR sekalipun. Saya hanya ingin orang lain melihat
sisi bahagia saya memiliki dia, tak terbebani menjalani hubungan ini karena
dia, menyayanginya karena dia sendiri, karena dia yang membuat saya bertahan
bukan kebiasaannya.
Pada akhirnya setiap saya membaca atau mendengar
keluhan-keluhan kalimat menjijikan itu saya cuma bisa berkata dengan bangga,
yang ngajakin makan, yang antar jemput, yang bagaimanapun akan kalah dengan
yang memperjuangkan, seperti pacar saya. Yang protes saya sumpahin gendut.
*sumber foto: Google Image