17 Jan 2017

LDR Jakarta-Bandung






Yang nanyain udah makan bakalan kalah sama yang ngajakin makan
Yang nanya udah pulang bakalan kalah sama yang jemput langsung

Pernahkah kalian mendengar kalimat-kalimat itu? Telinga atau mata saya termasuk yang cukup mual sekaligus tertawa kesetanan melihat banyak perempuan galau bergelimpangan hanya karena kalimat-kalimat itu. Dalam hati saya berdoa oh God siapapun yang pertama kali mencetusnya semoga dosa-dosanya diampuni karena telah menyebabkan gejolak luar biasa di hati banyak perempuan dan mungkin banyak menyebabkan keretakan di hubungan yang sedang adem-adem saja bahkan mungkin sampai putus, duh begoknya.




Tak memungkiri meski saya tidak mengacuhkannya tapi saya cukup gerah dengan kelakuan perempuan-perempuan itu. Kenapa? Karena saya LDR, LDR dengan pacar saya dari pertama kali hubungan kami lahir. Yak awal pacaran tahun pertama terlalu banyak waktu yang saya buang untuk menangisi semua hal. Saat teman saya dijemput kuliah oleh pacarnya, atau saat sedang pergi ke mall dengan teman kemudian dia dijemput pacarnya dan meninggalkan saya sendiri, saat saya harus diam saat semua teman saya membicarakan akan pergi dengan istilah emm double fucking date, saat saya hanya bisa bertemu satu bulan sekali, saat saya, saya, saya ah sudahlah.
Kini sudah menginjak tahun ketiga dan ternyata saya masih bertahan, saya kuat, pacar saya kuat luar biasa menjaga saya dari jauh hingga saya hanya ingin disini, tak ingin kemanapun memastikan dia selalu tahu kemana mencari saya.
Kini saya sudah lulus sebagai sarjana, tepatnya baru saja sidang. Sebagai mahasiswa rantau banyak teman-teman saya yang telah lulus kembali ke daerah masing-masing untuk bekerja di daerahnya, otomatis banyak pasangan LDR lahir dari hubungan yang telah bertahun-tahun yang mana menurut saya pribadi telah matang dan dewasa. Tapi manusia hanya bisa berencana, mengira, dan ngegosip, sisanya Tuhan yang menentukan.
Kembali pada dua kalimat tadi, saya yang sudah tak acuh kembali dipaksa mengacuhkannya dan bingung sendiri terhadap kelakuan teman saya yang baru lahiran LDRnya tetapi hubungannya sendiri sudah menginjak tahun keenam, sudah masuk TK kalau ia manusia. Suatu sore yang tenang dengan cemilan buku-buku novel yang lezat, saya dipaksa oleh pikirian saya untuk merenungi apakah segitu susahnya menjalani LDR yang menurut saya tidak begitu jauh, hanya 2 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor? Apa tidak berlebihan? Ini sih LDR dengan level kepedasan setengah cabai yang sudah dibuang bijinya kemudian direbus dan dicampur terasi, hmm enak. Tapi kurang pedas.
Teman saya setiap hari memasang status bbm yang galau mengenai LDRnya, dan seringkali mengutarakan kalimat-kalimat memuakan seperti di atas. timbul satu pertanyaan dalam benak saya, jadi selama ini kamu bertahan sama dia karena menyayangi orangnya atau kebiasaannya?
Girl, nun jauh 2 jam dari tempat kamu berada ada satu sosok lelaki yang mencintaimu, menerima kamu meski kamu terus merengek seperti bayi, sabar terhadap PMS kau setiap bulan selama 6 tahun lebih, tegar melihat wajah bangun tidur kamu yang seperti singa kesurupan mutan planet lain, setia menjemput kamu di manapun meski tulang-tulangnya juga hampir remuk, rela hujan-hujanan cuma karena kamu bilang kamu sakit, dan sekarang kamu berpikiran bahwa dia akan kalah hanya dengan seseorang lain yang mengajak kamu makan di warteg? Oh semoga Tuhan segala agama mengampuni kamu meski saya yakin Tuhanku Maha Pengampun.
Teman saya hanya sebagian kecil dari kesekian perempuan yang terlampau lemah. Bagaimana mungkin saya tidak emosi jika harga cinta perempuan hanya sebatas diajak makan atau diantar jemput. Teriak-teriak emansipasi tapi berjuang tanpa lelaki saja tak mampu.
Banyak yang mengatakan jika saya bisa bicara sesantai ini karena saya terbiasa LDR jadi gak ngerasain. Sekali lagi ya biar lebih dramatis TERBIASA LDR. Jadi kalau saya terbiasa LDR saya tidak pernah sedih?  tidak pernah galau? Tanya pacar saya yang sudah kebal terhadap rengekan saya yang muak dengan hubungan ini. Setelah saya merengek tanpa berpikir bahwa mungkin pacar saya pun sama sakitnya, bahkan lebih, saya akhirnya mulai menyadari jika saya mencintai dia, tidak ingin kehilangan dia, tidak ingin mencintai lelaki lain, dan tidak ingin dia mencintai wanita lain, maka saya bertahan. Toh semua kebiasaan hubungan normal itu akan kita jalani juga lambat laun. Makan bareng, nonton bareng, jalan bareng, ngupil bareng, suatu saat nanti akan menjadi kebiasaan kami juga. Jika sekarang belum bisa dikatakan kebiasaan karena hanya terjadi sebulan sekali, tetapi kami justru lebih menghargai semua itu.
Bagi saya cukup pacar saya yang tahu serapuh apa, sesakit apa saya selama LDR ini, orang lain tak perlu tahu, apalagi dengan saya mengumbarnya di status jejaring sosial. Memangnya bakalan ada yang peduli? Tertawa iya, iya seperti saya yang menertawai mereka. Yang saya umbar cukup bagaimana bahagianya saya saat bisa kencan, saat dijajani berbagai buku yang  beraroma lezat (hidung saya memang rada kelainan dengan aroma buku baru), saat berlibur, atau sekedar saat melihatnya tertidur pulas di samping saya. Sederhana memang tapi cukup membuat orang iri bahkan yang tidak menjalani LDR sekalipun. Saya hanya ingin orang lain melihat sisi bahagia saya memiliki dia, tak terbebani menjalani hubungan ini karena dia, menyayanginya karena dia sendiri, karena dia yang membuat saya bertahan bukan kebiasaannya.
Pada akhirnya setiap saya membaca atau mendengar keluhan-keluhan kalimat menjijikan itu saya cuma bisa berkata dengan bangga, yang ngajakin makan, yang antar jemput, yang bagaimanapun akan kalah dengan yang memperjuangkan, seperti pacar saya. Yang protes saya sumpahin gendut.



*sumber foto: Google Image

Percakapakan Kita Dulu





Sisi perempuan
Dua percakapan yang sebetulnya hanya bisa dibilang kegiatan menempelkan telpon pada telinga masing-masing. Lebih banyak hening yang terdengar daripada apa yang bisa dinamakan sebuah obrolan. Laki-laki itu baru terbangun dari tidurnya jam 11 siang dan tetap saja dia bilang kurang tidur. Mungkin memang malam bukan waktu otaknya mati. Menjelang subuh baru otak dan tubuhnya menyerah untuk tetap terjaga. Si perempuan pun bukan penikmat tidur malam cukup namun terkadang dia bangun lebih pagi dari si lelaki setiap akhir pekan dan menantikan telponnya berdering untuk sebuah obrolan yang sekedar iya dan tidak. sayangnya ini tak selalu membuat perempuan senang. Ia jengkel bukan kepalang kepada lelakinya yang menelpon seenak menyalakan radio dan membiarkannya mengoceh tanpa tanggapan berarti. Si perempuan sudah tau dan mengenal kebiasaan lelakinya namun tetap saja ia manusia yang menganggap dirinya sedang bercakap-cakap dengan yang ia sebut kekasihnya. Perempuan berusaha setidaknya itulah pendapatnya untuk memulai percakapan dan bertanya ini itu karena jika ia tidak bertanya atau hanya menceritakan sesuatu lelaki hanya diam saja.
Sayang kau baru bangun?
Ya.
Kau mau tidur lagi?
Tidak.
Sayang aku sedang bingung, sebentar lagi aku lulus kuliah tapi aku ingin pindah ke kotamu dan bekerja disana agar kita bisa dekat, tapi kau tau kan orang tuaku sudah memilihkan jalan lain setelah aku lulus aku akan disuruh mengabdi untuk mengajar di sekolah ayahku. Tapi aku tidak mau, aku bingung, tidak ada alasan aku pergi lebih lama dari rumah, sayang? Halo? Kau dengar?
Iya.
Si perempuan hening dan menunggu lelakinya memulai kata lain jika mengharap kalimat utuh terlalu tinggi. Dan tak ada. Perempuan kesal dan memaki dalam hati. Dia tau memaki terang-terangan hanya akan mendapat tanggapan bahwa perempuan sedang pms dari si lekaki.
Sayang aku harus apa? Bantu aku
Hmm
Halo?
Iya
Sayang kau ingin tidur lagi? Masih ngantuk?
Tidak

Perempuan itu muak dan kembali menyumpahi si lelaki dalam hati.  Perempuan itu berharap ada dunia yang bisa si lelaki bagi dengannya meski itu tentang umpatannya kepada teman sekantor atau bosnya sekalipun. Mereka tinggal berjauhan dan si lelaki sulit merangkum dunianya yang padat dan tidak terlihat si perempuan kedalam beberapa kalimat saja. Sementara si perempuan hanya menjalani dunianya dengan beberapa hal saja tidur, mengetik skripsi, makan, dan mandi kadang-kadang. Apa yang harus perempuan ceritakan? Apakah tentang betapa jeniusnya orang yang menyusun keyboard computer menjadi QWERTY? Atau bagaimana bisa pantatnya panas saat dia kelamaan duduk? Atau mengeluh betapa mahalnya jasa print dan fotocopy di luar sana. Betapa sepele hidupnya. Si perempuan diam dan si lelaki juga diam.
Sayang?
Yaa
Hening
Sayang?
Hmm
Hening
Sayang?
Apa?
Kenapa diam saja?
Kenapa harus aku terus yang bicara?
Si perempuan muak sampai ke tulang.
Yasudah kalau cuma mau diam aku mau lanjut mengetik, kau mau tidur lagi?
Yasudah lanjut saja biarkan telponnya tetap menyala.
Perempuan itu lanjut mengetik dengan kasar agar lelakinya masih bisa mendengar apa yang dia lakukan atau mungkin dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya pada kata-kata. Tulisan tak pernah mengkhianatinya. Tulisannya takkan berontak pada apapun yang perempuan tulis termasuk umpatan paling kasar sekalipun. Dia tak harus berhati-hati atau takut salah bicara. Dia bebas. Seberapa banyak pikiran yang ia tuliskan sebanyak itu pula ia mendapatkannya kembali. Bukan hanya ya, tidak, atau gumaman. Si Lelaki masih diam dan si perempuan diam.
Sisi laki-laki
Mataku itu masih setengah terbuka saat matahari hampir tepat di atas kepala. aku  Meraih telpon genggam dan memanggil sebuah nomor yang aku hapal bahkan di saat aku hampir lupa siapa diriku. aku  berharap dapat mendengar celotehan tak penting atau sebatas rengekan manja dari kekasihku yang pasti tengah rindu setengah mati. Namun aku terlalu ingin mendengar tanpa ingin berbicara terlalu panjang. Aku menghabiskan lima hari hidupku untuk bekerja dan membual kepada klien-klien dengan mulut manis yang segera ingin segera aku muntahkan begitu klienku pergi. aku hanya ingin diam, menjawab seadanya atau  tidak menjawab sama sekali pertanda setuju saja. aku hanya ingin istirahat dari beban bermulut manis yang semakin pahit di pangkal lidah. Aku mencekik diriku selama aku bekerja demi memuaskan mereka yang memegang bagaimana keuanganku dilewatkan satu bulan ke depan.  
Sayang kau baru bangun?
Ya.
Kau mau tidur lagi?
Tidak.
Kenapa perempuan ini melontarkan pertanyaan yang begitu bodoh? untuk apa aku menelponnya jika aku ingin tidur kembali, aku tinggal tidur saja. Tapi suara itu begitu renyah seperti waffle tipis yang baru keluar dari panggangan aku ingin suara itu selamanya. tetapi kau diam lebih banyak diam. Betapa  jengkelnya aku. ayolah keluarkan celotehmu, hibur aku, aku lelah dengan duniaku selama seminggu, ini akhir minggu aku ingin pulang kepadamu walau hanya pada suaramu. Aku ingin bersandar pada ceritamu tentang duniamu yang setidaknya belum memuakan seperti aku. Kini kau hampir lulus, ah kau akan segera seperti aku, menjalani rutinitas menjemukan demi bonus yang bisa menjauhkanmu dari semua kehidupan ini barang sehari dua hari. Ah kasihan kau.
Sayang aku sedang bingung, sebentar lagi aku lulus kuliah tapi aku ingin pindah ke kotamu dan bekerja disana agar kita bisa dekat, tapi kau tau kan orang tuaku sudah memilihkan jalan lain setelah aku lulus aku akan disuruh mengabdi untuk mengajar di sekolah ayahku. Tapi aku tidak mau, aku bingung, tidak ada alasan aku pergi lebih lama dari rumah, sayang? Halo? Kau dengar?
Iya.
Sayang aku harus apa? Bantu aku
Hmm
Halo?
Iya
Sayang kau ingin tidur lagi? Masih ngantuk?
Tidak
Ya Tuhan aku sedang memikirkanmu mengapa kau terus memanggilku? Aku ingin kau disini bersamaku, tetapi aku tak tega membiarkanmu jauh dari orang tuamu dan berjuang keras sendirian. Ah kenapa kau malah membahas masalah ini sekarang di saat aku ingin lari dan pulang kepadamu. Kau malah menyuruhku kembali kepada kehidupan ibu kota yang liar dibalik para birokrat terhormat. Sayang, tak bisakah kau biarkan aku pulang kepadamu meski hanya mencumbui suaramu?
Sayang?
Yaa
Hening
Sayang?
Hmm
Hening
Sayang?
Apa?
Kenapa diam saja?
Kenapa harus aku terus yang bicara?
Yasudah kalau Cuma mau diam aku mau lanjut mengetik, kau mau tidur lagi?
Ada apa denganmu? Nadamu terdengar gusar.
Yasudah lanjut saja biarkan telponnya tetap menyala.
Mulutku diam tapi pikiranku terus berbicara seperti segerombolan wakil rakyat yang sedang rapat penting menentukan merk mobil apa yang cocok digunakan pada akhir pekan, atau jam tangan merk apa yang bisa membuat mereka tampak lebih terhormat dan kaya dengan perut yang semakin membuncit. Selanjutnya terdengar bunyi keyboardmu yang aku rasa agak keterlaluan suaranya. Kau diam, aku pun diam.