Saat tak tahu arah yang dituju, awalnya dia hanya tertegun seorang diri dan merenung hingga akhirnya menyalahkan keadaan. Itu salah satu sifat yang sangat aku benci sampai – sampai aku muak hanya memikirkannnya saja, tapi itulah diriku. Seorang yang mencoba optimis tapi malah terjun bebas ke palung pesimistis. Salahkah bila aku berfikir bahwa diriku akan gagal? Banyak motivator – motivator kacangan meneriakkan “optimis” dengan lantang, tapi akankah mereka melakukan hal yang sama bila seandainya mereka ada di posisiku?
Bagiku, ya hanya bagiku, optimis sangat tidak berbeda jauh dengan berharap. Setujukah kalian? Aku tidak pernah berpikir berharap itu tidak menyenangkan atau berharap itu sesuatu yang buruk. Hanya saja efek sesudah berharap selalu hanya ada dua, apakah harapan tersebut sesuai dengan keinginan kita atau malah sebaliknya? Sangatlah menyenangkan bila harapan itu terjadi sesuai apa yang kita mau tapi bila yang terjadi sebaliknya, hatiku akan sangat hancur menghadapinya. Kemudian berkatalah suara misterius dalam kepalaku,”maka janganlah kau berharap terlalu banyak!”. Sangat tidak adil sekali! Berharap itu bebas, aku ingin berharap menginjakkan kaki di bulan atau bahkan Mars, sesuka diriku saja membayangkan, bukan begitu? Karena bagiku tidak ada tempat sebebas alam pikiran, tetapi efek setelah kita tahu bahwa kita bermimpi atau berharap akan menyanyat hati ketika kita tersadar. Semakin tinggi kau berharap maka semakin dalam pula kau akan terjatuh, itulah kata-kata seorang pesimistis.